oleh: Alief Murobby
“ Qul Huwallahu Ahad. Allahus Somad.”
Suara alunan lembut bacaan Al-Qur’an mengalun merdu di tengah dinginnya
malam, saat semua makhluk hidup tertidur, meringkuk dalam selimut
masing-masing. Bacaan itu menghangatkan tiap hati yang mendengarnya,
melawan sabetan dingin dari sabit sang malam. Suara itu menyelusup
diantara daun pepohonan, kemudian terbang pergi terbawa angin.
Hentakan
musik dari turntable sang disc jockey memenuhi ruangan berukuran 7x6
meter itu. Asap dari bong1 dan sisha2 membumbung di tengah ruangan yang
tidak berjendela itu. Delapan orang remaja, empat cowok dan empat cewek
berpesta di dalamnya, tak menghiraukan malam yang terus menanjak naik.
“ Ga, sini kek, ikutan nyabu. Nyedot sisha mulu,” panggil Feli pada Arga
yang mojok sambil menghisap sisha. Cowok itu tidak mengindahkannya.
Jumat, 28 September 2012
Cinta Pada Sebuah Mimpi
oleh: Andri Rusly
Cerpen.Gen22.net - Dialah Tiara atau biasa dipanggil Ara. Cantik, manis, dan pintar. Andre terkadang merasa minder apabila berada di dekat Tiara. Andre bisa dibilang beruntung sekali bisa dekat dan akrab dengan Tiara. Meskipun Andre agak telmi tapi Tiara tidak pernah bosan untuk memberikan advice atau nasehat-nasehat yang membuat Andre semangat dan bangkit kembali. Duh, Tiara di mata Andre adalah sebagai guru sekaligus cewek ‘super’. Belum ada yang bisa menandingi Tiara. Baru kali ini kayaknya Andre bisa menilai sosok cewek yang betul-betul baik dan sempurna. “Kau begitu sempurna di mataku kau begitu indah…..” begitu Andre menyanyikan lagunya Andra and The Backbone setiap Andre menghayalkan sosok Tiara di kamarnya.Sampai tidak terasa sudah setahun persahabatan mereka berdua, tanpa disadari ada perubahan dalam diri Andre. Tiara bukan saja sebagai teman. Tapi lebih dari itu. Entah darimana awalnya perasaan itu. Atau seringnya kebersamaan dapat menimbulkan cinta?
WHEN THE TIME COMES
Oleh Bella Danny Justice
“if i tell you...
Will you listen?
Will you stay?
Will you’d be here forever?
never go away...”
(Within Temptation – Bittersweet)
Sudah lama Myca memendam perasaan cintanya kepada Michael yang juga teman sekelasnya pada masa SMA dulu, namun kesempatan bagi dia untuk mengutarakan isi hatinya tak pernah tersampaikan. Michael memanglah teman sekelas Myca, tetapi mereka jarang sekali berinteraksi atau hanya sekedar bertegur sapa. Michael adalah sosok yang pendiam dan cool sehingga ia diidamkan banyak perempuan-perempuan di sekolah, dia tampan dan paling pintar dalam bidang olahraga. Banyak wanita yang berangan-angan ingin menjadi pacarnya, dan tidak sedikit yang berani mengungkapkan perasaannya kepada Michael secara terang-terangan, tetapi hasilnya begitu mengejutkan sekaligus membuat rasa penasaran Myca memuncak akan diri seorang Michael. Laki-laki itu tidak pernah menerima salah satu pun dari mereka dan ia belum pernah berpacaran.
YOU ARE MY EVERYTHING
Oleh Bella Danny Justice
“kenapa kamu tega menghianati aku Miko ? apa salahku selama 1 tahun kita bersama ? apa ?! katakan padaku Miko !!” aku tak dapat lagi menahan rasa sakit hati yang meluap-luap di dada. Aku tidak peduli jika ia menganggap aku wanita yang cengeng. Aku menangis di hadapannya karena aku tidak bisa lagi mentolerir perbuatannya kali ini. Miko, kekasihku yang sudah menghiasi hari-hariku selama 1 tahun kini berhianat dengan wanita lain. Aku tidak tau siapa wanita itu, aku tidak mengenalnya, tetapi Miko sendiri yang mengaku kepadaku kalau ia sudah mengecewakan aku dan meminta padaku untuk mengakhiri hubungan kami karena ia merasa sudah tidak mungkin untuk melanjutkan semuanya ini.
“aku sungguh minta maaf Sharon, tapi aku tidak bisa lagi bersamamu. Maafkan aku...” Miko tidak memberiku kesempatan untuk berbicara, ia langsung pergi meninggalkan ruang tamu rumahku yang hanya berisikan kami berdua. Tangisku pecah saat mendengar pintu rumahku tertutup. Miko sudah benar-benar pergi, ia tidak akan kembali lagi, ia ternyata serius dengan perkataannya. Aku bodoh sekali telah mempercayainya. Ini semua kesalahanku dan aku layak menerimanya.
“kenapa kamu tega menghianati aku Miko ? apa salahku selama 1 tahun kita bersama ? apa ?! katakan padaku Miko !!” aku tak dapat lagi menahan rasa sakit hati yang meluap-luap di dada. Aku tidak peduli jika ia menganggap aku wanita yang cengeng. Aku menangis di hadapannya karena aku tidak bisa lagi mentolerir perbuatannya kali ini. Miko, kekasihku yang sudah menghiasi hari-hariku selama 1 tahun kini berhianat dengan wanita lain. Aku tidak tau siapa wanita itu, aku tidak mengenalnya, tetapi Miko sendiri yang mengaku kepadaku kalau ia sudah mengecewakan aku dan meminta padaku untuk mengakhiri hubungan kami karena ia merasa sudah tidak mungkin untuk melanjutkan semuanya ini.
“aku sungguh minta maaf Sharon, tapi aku tidak bisa lagi bersamamu. Maafkan aku...” Miko tidak memberiku kesempatan untuk berbicara, ia langsung pergi meninggalkan ruang tamu rumahku yang hanya berisikan kami berdua. Tangisku pecah saat mendengar pintu rumahku tertutup. Miko sudah benar-benar pergi, ia tidak akan kembali lagi, ia ternyata serius dengan perkataannya. Aku bodoh sekali telah mempercayainya. Ini semua kesalahanku dan aku layak menerimanya.
This I Promise You
Nama Pena : Dahlia
Dalam diam, terasa air mata bertakung di kelopak mataku. "Berangan ape tu Cik Zaira? Teringat buah hati ke?" sergah Aina. Hampir menitis air mataku! mujur aku sempat mencapai sehelai tisu di atas meja. "Pandai la kau Aina, aku tengah feeling dengar lagu ni la" balasku sambil menanggalkan headphone yang terpakai di kepalaku dan mengesat air mata yang tak sempat gugur. "Kau jangan nak coverline la Zaira, aku tau kau rindu kat mat saleh celup tu, kan? Aina membalas dengan senyuman manis sambil beredar ke pantry. Sabar Zaira, inhale…
Sudah bertahun-tahun aku menunggu dia pulang. Adam Zafir McSmith, anak kacukan Melayu-Inggeris yang aku kenal 15 tahun dahulu. Semuanya bermula apabila keluargaku menjadi jirannya ketika di Birmingham. Kedua ibu bapaku melanjutkan pelajaran di England sewaktu aku berusia 10 tahun, dan dari usia itulah aku mula berkenalan dengan Zafir. Pada awalnya aku sukar menyesuaikan diri di tempat baru, tambahan pula dengan Brummie accent yang menyukarkan aku memahami pertuturan masyarakat di sana. Tapi Zafir tak pernah lelah mengajar aku, dan sebagai balasan, aku pula perlu mengajar dia bertutur dalam Bahasa Melayu. Tak ubah seperti ayam dan itik, tapi itulah titik permulaan persahabatan kami.
Hampir 5 tahun di England, mama dan abah mengambil keputusan pulang ke Tanah Air. Aku kecewa pada mulanya, kerana aku sudah serasi dengan kehidupan di sana, dan untuk pulang ke Malaysia, bermaksud aku akan berpisah dengan sahabatku, Zafir. Rutin harianku pasti berubah selepas itu, tiada lagi jogging di waktu petang, tiada lagi lawatan ke muzium dan galeri seni pada hujung minggu, dan tiada lagi teman menonton wayang setiap kali filem baru ditayangkan. Zafir turut menyatakan yang dia akan kehilangan kawan, dan dia berjanji untuk datang ke Malaysia sebelum dia melanjutkan pelajarannya ke universiti.
Kehidupan di Malaysia tidak banyak berubah, walaupun 5 tahun aku dibesarkan di England, aku masih mampu menyesuaikan diri dengan cepat pada sistem pembelajaran di Malaysia. Masalahnya cuma satu, setiap kali matapelajaran Bahasa Inggeris berlangsung, aku lah pelajar yang akan mendapat jelingan tajam pelajar-pelajar lain. Bukan niatku untuk berlagak, tapi 5 tahun sudah cukup membuatkan lidahku lentur mengikut dialek Inggeris. Maaf ye kawan-kawan, tak berniat pun…
Sepanjang aku di sekolah menengah, aku sering berhubung dengan Zafir melalui e-mail, dan pada cuti panjang selepas peperiksaan SPM, dia telah mengkhabarkan berita yang aku nantikan 2 tahun lamanya. Malah, berita yang aku terima adalah lebih baik daripada apa yang aku harapkan. Dia dan keluarganya akan berpindah semula ke Malaysia. Saat itu, aku lah insan paling gembira, aku akan berpeluang melakukan semua aktiviti yang kami gemar lakukan ketika di Birmingham. Cepatlah pulang Zafir! I miss you dearly.
Mungkin pada usia 17 tahun, aku masih terlalu mentah untuk jatuh cinta. Aku sedar mata-mata yang memandang setiap kali aku keluar berdua dengan Zafir. Ada sahaja perempuan yang tersengih-sengih ingin berkenalan dengannya, tapi Zafir tetap cool. Tak pernah pula aku melihat dia menggunakan wajahnya untuk mendapatkan mana-mana perempuan. Memang banyak perubahan pada dirinya selama 2 tahun kami tidak berjumpa. Dia semakin tinggi, rambutnya yang perang dan dipotong pendek itu menyerlahkan anak matanya yang biru. Zafir lebih mewarisi ciri-ciri Inggeris ayahnya berbanding ibunya. Mungkin juga kerana ibunya, Aunty Sophia, merupakan kacukan Melayu-Cina, membuatkan wajah Zafir memang manis dan menarik pandangan mana-mana gadis remaja. Tapi aku hanya mampu memandang dia sebagai seorang kawan.
Hanya setahun setengah dia berada di Malaysia sebelum dia mengambil keputusan untuk menyambung pengajiannya semula di University of Birmingham. Pada mulanya aku jadi marah, sedangkan di Malaysia terlalu banyak IPT, perlukah dia kembali ke tempat kelahirannya untuk ke universiti? Tapi aku hormati keputusannya, sedangkan dia tidak pernah masuk campur dalam pilihanku untuk belajar dalam bidang sastera inggeris, takkan aku pula menghalang cita-citanya menjadi seorang arkitek.
Beberapa hari sebelum dia pulang ke Birmingham, dia mengajak aku untuk keluar jogging. Seperti biasa, aku tidak menolak pelawaannya. Selepas berjogging, kami berjalan bersebelahan tanpa sebarang kata, kedua-duanya lebih senang melayan perasaan masing-masing. Dan sedang aku leka memerhati orang ramai beriadah, dia menarik tanganku perlahan untuk duduk di sebuah bangku. Buat pertama kali selepas hampir 10 tahun kami berkawan, aku berasa kekok dengan perbuatannya itu. Hati aku menjadi berat mengenangkan perpisahan kali kedua yang bakal kami hadapi.
"I'm going to miss Malaysia you know. Tapi kalau ada peluang, Zafir balik lah masa cuti semester nanti, ok?" nadanya seakan memujuk. Seolah-olah dia tahu, aku benci kehilangannya. "What if you found yourself a girlfriend back in Brum? Mesti lupa terus pada Malaysia kan? And this friend of yours…?" aku bertanya seakan menunjukkan rasa protesku. "Zaira,remember the e-mail thatI forwarded to you?" balasnya. "Which one? I still have hundreds of emails from you." Antara acuh dan tidak aku bertanya. "Wanita ibarat sebiji epal? Masih ingat? " dia cuba mengingatkan aku. Segera aku cuba mengingati isi kandungan e-mail tersebut, tapi apa kaitan dengan soalan aku tadi? "And your point is…?" aku mahu dia menjelaskan maksudnya yang tersirat. "I think i have found that particular apple on top of the tree, and I want to have it. Tapi bukan sekarang. I need to have a stable life, a future. Then only, will I think about having a girlfriend, you silly!" dia mencuit daguku dan tertawa. Aku tak pasti apa maksudnya. Otak yang segar selepas berjogging nampaknya gagal mencerna maksud kata-kata Zafir tu. Usai tawanya, dia mengajak aku pulang ke rumahnya untuk bersarapan.
Seharian aku membantu dia mengemas barang-barang yang akan dibawa, meskipun tidak banyak yang akan dibawa, masa yang diambil lama kerana Zafir sering mengusik aku dengan jenakanya. Dua hari sebelum dia berlepas ke Birmingham berlalu dengan begitu pantas. Entah kenapa aku berat hati untuk melepaskan dia pergi. Atau mungkin aku takut melepaskan sesuatu yang bukan milikku? Malam itu, aku mengikut keluarganya ke lapangan terbang. Walaupun kami tiada hubungan yang lebih daripada sebuah persahabatan yang akrab, aku tidak pernah kekok bersama keluarganya, seolah-olah aku sebahagian daripada keluarga itu dan dia sebahagian daripada keluargaku. Uncle Zarith, Aunty Sophia dan adiknya, Sarah melayan aku cukup mesra.
"This is for you" dia menghulurkan sebuah kotak kecil bersampul pembalut bewarna hijau lembut kepadaku. "it's nothing much, but incase if you miss me…" dia menyambung. Air mata di kelopak mataku sudah mula bertakung. Bodohnya aku kerana tidak membelikan apa-apa untuk dia! Entah bagaimana aku boleh terlupa. Mujur aku terpandang key-chain berbentuk monumen Perrott's Folly yang tergantung pada begku. Key-chain yang aku beli dahulu ketika kami melawat sebuah galeri seni. "I have nothing in return, but do you still remember the time we bought this?" aku tidak menoleh sedikit pun ke arahnya. Sambil menahan air mata daripada jatuh, tanganku ligat cuba menanggalkan key-chain tersebut daripada begku. Akhirnya, Zafir yang menanggalkan key-chain tersebut daripada begku. Pastinya kesedihan aku terpancar ketika dia melihat tanganku yang menggigil ketika cuba menanggalkan key-chain tersebut. Akhirnya dia pergi juga, dan kali ini dia membawa separuh hatiku bersamanya. Ataupun, hanya aku yang telah memberikan separuh hatiku kepadanya.
_______________________
5 tahun berlalu, dan aku tidak lagi mendengar khabar berita darinya. Setahun dia di sana, kami semakin jarang berhubung, dia tidak pernah pulang bercuti dan kali terakhir aku mengirim salamku padanya melalui Sarah ketika mereka sekeluarga berpindah semula ke Birmingham 3 tahun yang lalu. Aku benar-benar terluka, tapi aku hanya mampu meluahkan perasaanku pada adikku, Hana. Hanya dia yang tahu bahawa aku menyedari perasaanku sebenar pada Zafir ketika malam dia berangkat. Dan hingga hari ini, hanya Hana yang tahu aku mencintai Zafir dan menunggu dia pulang ke tanah air. Aku tahu, penantian aku mungkin tiada penghujungnya. Mama dan abah juga sudah mula bertanya soal jodohku. Tapi aku masih mahu menunggu Zafir, walau usiaku kini menginjak 25 tahun. Hanya alasan demi alasan mampu ku berikan, tapi perasaanku pada Zafir masih menjadi rahsia daripada pengetahuan mama dan abah. Lamaran demi lamaran aku tolak demi Adam Zafir.
Semalam Aina berjaya mengorek kisah aku dan Zafir. Semua gara-gara kesilapanku apabila dia terlihat aku membuka semula nota yang diberikan oleh Zafir bersama pemain mp3 yang dia hadiahkan kepadaku. Memang satu kesilapan bila sesuatu seperti itu berlaku, Aina terkenal dengan mulutnya yang banyak celoteh, habis semua rahsiaku di bongkar. Mujur saja dia tidak membaca nota itu sekuat hatinya di pejabat semalam.
Dear Zaira,
Remember the apple on top of the tree? To me, it is you. I may not be brave enough to get you today, but wait till I have owned the braveness. Don't you ever lower down your dignity to get some love from a man. Give me the chance to be the man in your life. Wait for me, and I will come for you. I will take you from the top of that tree in the sweetest way. This I promise you.
Your knight in shining armor,
Adam Zafir McSmith
Nota tersebut disertakan dengan pemain mp3 yang berisi lagu-lagu kegemaran aku. Lagu pertama ialah lagu nyanyian Nsync, This I promise you. Selainnya, lagu-lagu yang kami kongsi bersama ketika membesar di England. Dengan apa yang dia berikan, aku mampu menunggu dia pulang, walaupun berpuluh tahun lagi. Hana sering menganggap perlakuanku seperti si dungu. Dia merasakan Zafir sudah melupakan aku, dia hanya mempermainkan perasaanku, menipu aku dengan kata-katanya. Tapi entah kenapa, hatiku merasakan sebaliknya. Pasti ada sebab dia masih belum pulang. Mahu sahaja aku menjejaki dia di sana, tapi aku masih belum mampu dengan gajiku yang kecil sekarang. Suatu hari nanti. Mungkin.
______________________________
Suatu hari, sepulangnya aku dari pejabat, aku di sambut dengan senyuman Hana yang tak ubah umpama kerang busuk di pintu pagar. Apa kena adik aku ni? "Along, I was wrong." Katanya sambil menghulurkan sepucuk surat bersampul biru. Jantungku hampir gugur melihat alamat pengirim. Perlahan-lahan aku membuka sampul surat itu, sedang seribu soalan mula menari ligat di dalam mindaku.
Sepucuk surat yang meleraikan segala kegusaran aku selama 5 tahun. Zafir menyampaikan berita kepulangan Uncle Zarith dan Sarah ke Rahmatullah 2 tahun yang lalu akibat sebuah kemalangan. Kemalangan yang juga meragut semangat dan kekuatan Aunty Sophia. Aku turut bersedih dengan kehilangannya, dan aku bersyukur kerana kesabaran aku selama ini punya hikmah tersendiri. Dia mengambil masa yang lama untuk menghubungiku kerana dia tidak mahu aku melihatnya sebagai seorang insan yang lemah. Beberapa bulan selepas dia mengirimkan surat tersebut, dia pulang bersama ibunya. Tiada lagi penantian, pernikahan aku dan dia berlangsung secara sederhana. Kami sekeluarga menetap di Malaysia hampir setahun sebelum Zafir mendapat panggilan kerja di Birmingham.
Hari ini, sekali lagi aku menjejakkan kaki di bumi Birmingham bersama cahaya mataku, Sarah Aliya binti Adam Zafir McSmith. Aku bersyukur kepada Tuhan kerana mengurniakan aku seorang suami setabah Zafir, seorang yang berpegang pada janjinya dan meletakkan kedudukan tinggi buat wanita yang di kasihinya.
Sayang, this I promise you...
When the visions around you,
Bring tears to your eyes
And all that surround you,
Are secrets and lies
I'll be your strength,
I'll give you hope,
Keeping your faith when its gone
The one you should call,
Was standing here all along..
And I will take
You in my arms
And hold you right where you belong
Till the day my life is through
This I promise you
http://ceritamy.blogspot.com
petualangan cinta sela
Rabu, 26 September 2012
Masih Bisakah Hari Itu Terulang ?
oleh: Diah Novianti
“Fio, tunggu…!”, langkahku langsung terhenti kala Denis memanggilku. “Ada apa ?” ” Ini, buku latihanmu ketinggalan.”kata Denis. “Makasi” jawabku sambil tersenyum. Denis membalas senyumku, senyum manis yang memberikan arti bahwa ia adalah sosok anak muda yang ramah dan baik hati.
Ya, dialah Denis. Siswa SMA 46 Jakarta yang cukup banyak punya penggemar. Aku pun sudah lama memendam rasa kepadanya. Aku dan dia memang sudah kenal sejak lama karena dari sekolah dasar aku sudah sekelas dengannya. Awalnya, tak ada kedekatan apapun di antara kami, hingga suatu hari Denis mengajakku pulang bersama. “Mau pulang sama aku nggak ?” tanyanya sambil tersenyum. Senyum yang dapat membuat siapa saja melayang karnanya. “Bole aja”, tanpa basa basi aku langsung mengiyakan ajakan itu. Dari sana, aku mulai dekat dengannya. Dan akhirnya, saat itu pun tiba. Denis memintaku untuk menjadi pacarnya. Tak perlu banyak waktu untuk menjawab semua itu karna memang itulah mimpiku sejak SMP.
MOVE ON !
Oleh: Lelie Liana
Kriiinggg “Halloo..“
... “Hallo, bisa bicara dengan Jenny?”
... “Hallo, ini Bobby, bisa bicara dengan Jenny?”
... Klekkk! Tuttt tutt tuttt
Pagi itu mendadak muka Jenny masam semasam-masamnya yang dia bisa. Dina aja sampe bingung ada apa gerangan.
“Kenapa loe Jen?“
Little Agatha
LITTLE AGATHA
oleh: Efih Sudini Afrilya
![]() |
| Cerpen Cinta |
Ini semua salahku. Jika aku tidak ikut-ikutan merayakan kemenangan Tim Basket ku. Agatha tidak akan menunggu ku hingga larut malam di Taman. Agatha tidak akan meminta putus dariku dan dia tidak akan menangis seperti ini.
Jujur, dibanding Agatha, cewek-cewek yang mengidolakanku jauh lebih cantik. Meskipun tubuh Agatha mungil, kulitnya tak putih, tapi buatku Agatha sangat manis. Matanya yang bulat selalu memancarkan kebahagiaan, kepolosannya membuatku nyaman dan tidak meragukannya lagi, tingkahnya yang manja membuatku selalu ingin menjaganya.
This Is Story About Ana Maria
Ana selalu berdoa kepada Tuhannya : “ Tuhan ! tolonglah aku, tolonglah aku agar aku bisa bertemu dengan ibuku Tuhan !. satukanlah kami kembali seperti dulu !”
Tanpa terasa tetesan airmata pun mengalir membasahi pipi Ana. Hari** yang dilalui Ana sangatlah sepi, meskipun ana tinggal di sebuah asrama yang dipenuhi dengan siswa-siswi. Tetapi Ana masih saja sendiri.
Ana adalah anak yang tidak sama dengan anak lainnya, ia selalu sendiri dan sendiri, sampai suatu saat.
“Lihatlah ! itukan si anak neraka itu !, ngapain dia duduk di pinggir jendela. .. Tumben “ Seru Erica
“Sudahlah,, buat apa kau memperhatikan dia, paling-paling dia Cuma ingin mencari malaikat yang akan membebaskan dirinya dalam neraka…. HAHAHAHAHAHAHAHAHA” Ucap Monica
“Ahaa,, bisa aja kamu Mon”
“..ssttt, ntar diia dengar loh, gawat nanti jangan-jangan qt bisa ikutan masuk neraka juga”
“iiya,, iih serem, qt pergi aja yuk”
“ yuk..”
![]() |
| Oleh: Rezki Fitri Febriana |
Ana memang buta, tapi dia bisa melihat mahluk lain selain hewan dan manusia. Dia Memang suka mengurung diri diperpustakaan yang sunyi, karena ia melihat begitu banyak hal disana. Ada ibu yang selalu membacakan cerita untuk anaknya, ada yang bernyanyi, ada yang menangis dan ada yang selalu diam. Ana hanya melihati mereka dan, ketika Ana mengajak mereka untuk berkomunikasi, mereka hanya bisa diam terpaku menatap wajah Ana. Berulang kali Ana menyapa mereka, namun tak ada satupun yang bisa mengerti dengan bahasa Ana.
“Aku hanya ingin tau dimana ibuku ! dimana ?, “
“Aku hanya ingin tau dimana ibuku ! dimana ?, “
“Aku hanya ingin tau dimana ibuku ! dimana ?, “
“Aku hanya ingin tau dimana ibuku ! dimana ?, “
Berulang kali Ana mengucapkan kalimat itu, namun mereka tetap diam, hanya diam menatapi wajah Ana
Misteri Rumah Baru
oleh Novie An-Nuril Khiyar
Hari ini adalah hari pertama aku pindah dari kontrakan ku yang dulu. Di karenakan jauh dari kampus, akhirnya aku memilih untuk menyewa rumah baru. Dengan pendapatan yg pas-pasan, aku lebih memilih menyewa rumah yg terlihat tak terurus. Kebetulan sewa rumah itu jauh lebih murah di banding harga sewa rumah ku yg kemarin. Hanya berbekal uang 500 ribu aku bisa mendapatkan rumah yg tergolong mewah, walaupun sedikit tak terurus dan berantakan. Aku saja heran, mengapa rumah ini terlalu murah utk di sewakan,,bukankah rumah ini besar dan luas??. Tapi aku akan tetap tnggal di sini berdua.. Ya,,selama ini aku tinggal berdua dengan teman sekampusku. Kami dari kampung yg merantau kekota hanya sekedar mencari ilmu dan mimpi.
PETUALANGAN AIRA
“Halo, selamat pagi!“
Sang mentari menyapa dengan ramah. Sinarnya yang keemasan perlahan-lahan mulai mengelus wajah bumi. Penghuni bumi mulai merasakan kehangatannya.“Ah…… segarnya pagi ini.” Aira terbangun dari tidurnya dengan wajah berseri –seri.
“Selamat pagi Embuni! Selamat pagi Kupu-kupu“, sapanya dengan ramah.
Aira adalah setetes air. Ia bertengger di atas sehelai daun melati.
“Aira, hari ini kamu lebih cerah dari biasanya,” kata Kupu-kupu.
“Apakah kesedihanmu sudah hilang? Apa obatnya?“ Tanya Embuni.
“Aku tidak bersedih lagi. Hari ini Ibu akan mengajakku untuk melihat dunia dan menunjukkan kepadaku betapa berartinya aku.”
Kemarin, Aira bersedih. Ia merasa tidak berarti. Ia tidak seperti Lebah yang menghasilkan madu.. Ia tidak bisa terbang. Ia juga tidak seperti bunga yang berbau harum. Ia hanyalah setetes air yang akan lenyap bila terkena panas matahari. Hal inilah yang mengganggu pikirannya berhari – hari, sehingga ia selalu nampak murung. Namun, hari ini ia gembira karena ibunya akan mengajaknya memulai petualangan baru.
Vila Merah Bata
Tiga orang bersahabat; Panji, Arjuna dan Rama merasa lega karena akhirnya UN telah berhasil mereka lalui. Segala upaya telah mereka lakukan untuk melewati rangkaian ujian-ujian sekolah, dan salah satu yang terpenting yaitu belajar sungguh-sungguh. Sambil menanti pengumuman hasil dari UN, ketiga orang bersahabat ini berencana untuk liburan.
Sore itu mereka bertemu di rumah Arjuna. Sebuah rumah yang megah, mewah, untuk mematangkan rencana liburannya.
“Bagaimana kalo kita pergi naik gunung…?!” Panji menyampaikan idenya dengan penuh semangat.
Rama yang sedang duduk santai bersandar di sofa, dekat Panji, langsung menyahut.
“Ah…malas…!” sahutnya sambil tetap duduk bersandar dan tetap memainkan handphone-nya
Sesaat kemudian Rama berhenti mengutak-atik handphonenya, lalu ia menegakkan duduknya.
Misteri Hilangnya Kunci Rahasia "Blue Diamond"
Pernah ada kejadian, ketika salah seorang guru mengetuk-ngetuk keras pintu ruang kepala sekolah dan berteriak ‘Apa ada orang di dalam’, tiba-tiba terdengar bentakkan keras dari dalam: “Keluar sana, biarkan aku sendiri..!!”. Sejak saat itu, tak ada satupun guru atau murid yang berani ke sana. Banyak ada isu yang mengatakan bahwa Prof. Doni menjadi gila gara-gara perusahaan di Afrika nya bangkrut, sehingga kekurangan uang untuk membayar sewa apartemennya, ada juga yang mengatakan kalau Prof. Doni sudah tidak ada dan arwahnya gentayangan di ruang kepala sekolah. Namun, isu-isu itu tidak berlaku bagi Ben dan Toni. Sepasang sahabat ini yakin ada kasus yang lebih masuk akal yang mungkin mengganggu Prof. Doni.
Jumat, 21 September 2012
ESTHER..
Esther..mgkn esther tidak mau bertemu lagi dengan koko..mungkn esther
berusaha menghapus seluruh kenangan kita dan cerita kita yang dulu
pernah ada. Dan mungkin semua sudah terlambat menurut esther..Rintangan
dan cobaan yang tidak mampu kita lewati berdua akhirnya membuat keadaan
yang ada tidak bisa mempersatukan kita kembali..
Mungkin semua cerita kita sudah berakhir..sangat terpukul dan shock dengan keputusan dan pilihan esther yang sangat tiba-tiba..
Air mata dan penyeselan tiada arti dan tiada guna akhirnya yang koko
dapatkan..usaha untuk mendapatkan dan memiliki hati esther sepenuhnya
kembali akhirnya gagal..tertutupnya ruang hati dari esther buat koko
membuat koko harus merelakan esther meski keikhlasan itu tidak...sama
sekali tidak ikhlas...yaa..koko harus merelakan tanpa keikhlasan.
Maafkan koko yang sudah membuat keadaan seperti ini..karena koko tidak
mau dan tidak bisa membohongi isi hati koko...besarnya sayang dan cinta
koko kepada esther tidak akan pernah pudar...maafkan koko karena cinta
koko telah mengkhianati esther..koko sudah ingkar janji untuk selalu
menjaga esther ,dan mendampingi esther...
Meski dengan hati yang sedih, perih, dan uraian air mata,
Meski terkadang ucapan dan perkataan koko tidak sesuai dengan isi hati koko,
Tapi cerita itu akan abadi di hati koko..selamanya..meski nanti koko
akan pergi jauh, bahkan sampai nanti koko tutup usia, cerita kita akan
selamanya koko kenang....
KU TEMUKAN PELANGI DI TEPI DANAU
“ Angi....maafin Riko. Riko janji....Riko akan kesini lagi didanau ini.
Tapi....”
“ Tapi apa Riko??” potong Pelangi.
“ Tapi sekarang Riko harus pergi...” jawab Riko dengan berat hati.
“ Pergi...kemana??” tanya Pelangi tertegun dengan kata-kata Riko.
“ Ke London….” Jawab Riko pendek.
Pelangi menundukkan kepalanya. Ia mencoba menyembunyikan kesedihannya itu. Riko
sungguh tidak tega meninggalkan sahabat yang disayanginya itu. Sesungguhnya
dalam hati Riko menganggap Pelangi lebih dari seorang sahabat. Sayangnya
keadaanlah yang membuat Riko enggan mengungkapkan perasaan itu, ketakutannya
akan hubungan persahabatan dengan Pelangi akan renggang setelah dia
mengungkapkan perasaan itu.
Penghuni rumah tua
Seperti Sore Ini, Aku pulang
agak cepat dari sekolah. Dari kejauhan kulihat tubuh kecilnya duduk
dibalkon rumah itu. Memandang jauh seolah ia sedang menerawang jauh,
semakin dekat kulihat sesekali bibirnya bergumam, entah apa yang dia
katakana. “Sore Mba…”. Kataku membuyarkan lamunannya, ia menoleh ke
arahku sedikit kaget lalu tersenyum menganggukan kepala. Selalu tanpa
suara “ Bisu kali yah…”, Pikirku. “He..He.., Sorry mba… abis nggak
pernah mau jawab sih”, Bathinku.
PUISI TERAKHIR
Dari
kecil dia sudah terbiasa ditinggal oleh ibunya ke luar kota, semenjak
adanya pertengkaran di rumahnya itu, dia memang berasal dari keluarga
yang tidak mampu dia adalah anak ke 2 dari 4 bersaudara, namun kedua
orang tuanya sangat ingin melihat anaknya sukses yah walaupun untuk
biaya sekolahnya sang kakak harus berhenti sekolah dan hanya sampai
kelas 2 SMA, sang kakak bekerja di kota untuk membiayai keluarganya,
walau sangat di sayangkan sang kakak keluar namun apalah daya ibu bapak
nya yang tak mampu membiayai sekolah sang kakak, dia hanya bisa menangis
melihat sang kakak pergi ke kota meninggalkan mimpinya untuk menjadi
orang yang berpendidikan tinggi.
Langganan:
Postingan (Atom)










