Matahari mulai terbit, ayam jago mulai
berkokok, jam alarm pun mulai berdering, "kring...kring..." dan,
ibunya mulai memanggil, "Rin..Airin... bangun.!". Airin pun
terbangun, segera berdiri dari tempat tidur dan bersiap-siap untuk pergi ke
sekolah.
Sambil berjalan menuju gerbang, Airin
menyapa teman-temannya. sesampainya didalam kelas, Airin biasa bercanda tawa
dengan teman-teman sekelasnya. Hari itu kelas Airin kedatangan siswa baru, yang
bernama Thita. Tempat duduknya tepat disebelahnya. Airin merasa dia adalah
seseorang yang baik. Airin dan thita sama-sama cocok. Hari demi hari telah
mereka lalui bersama. Airin selalu curhat tentang masalah-masalahnya. Mulai
dari masalah percintaan, masalah pribadi dan masalah yang lainnya.
Siang itu, sepulang sekolah.
Airin bertemu dengan teman lamanya.
"Cha..Cha..Chaca..",
Airin memanggil teman lamanya.
"Hey!", sahut Chaca.
Airin pun berhenti sejenak untuk
mengobrol-ngobrol dengan Chaca. Chaca adalah salah satu teman terbaiknya, Airin
sering curhat ke chaca. Tapi, Airin slalu menomor 1-kan Thita. Karna, menurut
dia Thitalah yang paling terbaik.
Beberapa hari kemudian di halaman
sekolah. "Rin.. Airin..!". " Seperti ada yang memanggilku."
pikir Airin. Airin pun menoleh, "Yah, ada apa?" sambutnya.
"kemarilah!" kata salah satu temannya. Teman-temannya pun berkata.
Bahwa, Thita sahabatnya telah membongkar semua rahasia-rahasianya.
"Iya, Thita telah membongkar
semua rahasi-rahasiamu dengan cara, menulis semua rahasia-rahasiamu dan
ditempelkan di mading dan tampak jelas ada tanda tangan Thita dibawahnya",
tambah teman-teman.
"Ngomong apa kalian!, Thita itu anak yang
baik.", bentak Airin.
" Rin, kita nggak mungkin
membohongimu. kalau tak percaya, silahkan kamu lihat sendiri di mading.",
kata salah satu dari mereka.
Airin pun bergegas menuju
mading. Dilihatnya kertas yang baru ditempel di mading. Dengan perlahan Airin
mulai mambacanya. Airin masih tak percaya. Karena, Airin belum mendapat
penjelasan dari Thita langsung.
Sambil berjalan menuju kelas,
Airin sempat melihat Thita sedang tertawa terbahak-bahak dengan anak-anak yang
slalu sirik dengannya. Isak tangis pun mulai terdengar dari mulutnya.
"Ya Allah, ternyata Thita
bukanlah sahabat yang selama ini aku cari-cari.", gumam Airin.
Hari itu, Thita pindah kelas,
dia pindah dikelas 8-5. Bel istirahat mulai berbunyi. Segeralah Airin pergi
dari kelas untuk menemui Thita, dia butuh penjelasan dari Thita. Sesampainya
dikelas Thita, Sambil menangis, Airin meminta penjelasan dari Thita.
"Ta, apa maksud kamu membongkar
semua rahasia-rahasiaku?", tanya Airin.
Thita tak manghiraukannya, dia malah membentak
balik.
"Hey! Terserah aku donk..!,
salah sendiri kamu curhat ke aku. Aku aja nggak pernah curhat ke kamu
kok.", jawab Thita dengan nada kasar.
Memang sejak mereka berteman, Thita tak pernah
curhat ke Airin. Airin sangat sedih mendengar semua perkataan Thita. Tapi,
Airin tatap mencoba untuk tegar.
Sepulang sekolah, Airin
bersinggah ke rumah Chaca. Ia merasa bahwa Chacalah yang bisa manenangkannya. Airin
pun menceritakan semua kejadian disekolahnya tadi. Dengan halus, Chaca manegur
Airin.
"Berhati-hatilah dalam memilih teman.
Karena, bagaimanapun juga, kadang-kadang teman bukanlah seorang PENJAGA RAHASIA
yang baik." Mulai saat itulah Airin merasa bahwa Chacalah PENJAGA RAHASIA
sesungguhnya