Pagi itu Cintya tampak sangat sibuk
mempersiapkan barang-barang yang akan dibawa dihari pertama ia masuk sekolah.
"Cintya…!!"
terdengar suara ibunya memanggil.
"Ayo nak cepat
sarapan, nanti kamu akan kesiangan." kata ibu sambil menghidangkan makanan
di meja makan.
"Iya, bunda
sebentar lagi", jawab Cintya sambil berjalan menuju ruang makan.
Setelah Cintya selesai
sarapan, ia segera berpamitan kepada kedua orang tuanya untuk berangkat
sekolah. Ia tampak sangat bersemangat mengayuh sepeda barunya, karma ia tidak
sabar untuk memasuki sekolah barunya.
"Akhirnya sampai
juga kita disekolah", ujar Dina salah satu teman Cintya.
"Iya Din, aku tak
sabar bertemu dengan teman-teman baruku", tambah Cintya.
Tet…Tet…!! Terdengar
bel masuk berbunyi. Karna Dina dan Cintya tidak sekelas mereka berpisah
ditengah perjalanan, untuk menuju kelas meraka masing-masing. Hari itu adalah
Masa Orientasi bagi siswa baru. Seperti pada tahun-tahun sebelumnya setiap
tahun ajaran baru, pasti ada Masa Orientasi Siswa atau biasa disebut dengan MOS
bagi siswa kelas VII. Waktu itu Citya masuk pada kelas Cut Nyak Dien. Ia duduk
disamping teman lamanya.
"Lho, Fany? Kamu
juga masuk kelas ini?" tanya Cintya.
"Iya Cin, aku
nggak nyangka kita bisa ketemu lagi disini", jawab Fany.
"Iya Fan, aku
juga nggak nyangka. Bolehkah aku duduk disampingmu?" tanya Cintya lagi.
"Oh tentu
silahkan", jawab Fany dengan mempersilahkan Cintya duduk disampingnya.
Tak lama kemudian
beberapa dari kakak-kakak OSIS yang bertugas mengisi dikelas itu pun tiba.
"Assalamu'alaikum…",
ucap salam dari kakak-kakak OSIS.
"Wa'alaikumsalam…",
jawab semua siswa dengan kompak.
Tak ingin
menyia-nyiakan waktu, salah satu dari kakak – kakak OSIS segera memimpin berdoa
dan memulai sebuah permainan. Memang permainan tersebut seperti permainan yang
biasanya di mainkan anak TK, tapi permainan tersebut di butuhkan kecermatan dan
konsentrasi.
" Baik adik-adik,
mari kita mulai permainan ini!" ajak kak Rina salah satu kakak OSIS.
" Dan sebelumnya
kakak akan mengingatkan, kalian harus konsentrasi dan cermat dalam bermain
nanti. Karena kalau kalian salah dalam bermain akan kakak beri hukuman",
tambah kak Ida.
" Yang harus
kalian perhatikan adalah perintah-perintah dari kami. Jadi ketika kakak
menyuruh kalian untuk tepuk tangan, maka kalian harus melakukan kebalikannya
yaitu memukul meja. Begitu sebaliknya, jika kakak menyuruh untuk memukul meja,
maka kalian harus bertepuk tangan. Faham adik-adik",tanya kak Rini setelah
memberi penjelasan.
" Faham
kak...", serentak semua siswa menjawab.
Satu, dua kali putaran
semua bermain dengan baik.Tidak ada yang mendapat hukuman, namun kali ini
terdengar beberapa bunyi yang berbeda. Sepertinya ada tiga anak yang salah
memainkannya. Salah satu di antaranya adalah Cintya.
“Nah, akhirnya ada juga yang ketahuan kurang cermat
dan kurang konseantrasi dalam bermain. Ayo yang merasa tadi salah dalam bermain
silahkan maju ke depan. Kakak tidak akan menunjuk, kakak ingin kalian jujur dan
dengan kesadaran diri sendiri untuk maju!" perintah kak Rini.
Cintya dan dua
temannya yang merasa salah bermain segera maju ke depan.
"Seperti
perjanjian kita tadi, yang salah atau kurang konsen dalam bermain akan kakak
beri hukuman", ujar kak Ida sambil senyum seperti meledek Cintya dan dua
temannya.
"Nah, hukumannya
untuk kedua cowok ini silahkan bernyanyi lagu PELANGI – PELANGI dengan huruf
vokal di ubah menjadi O semua, setelah itu berikan bunga ini pada salah satu
cewek yang kalian suka di kelas ini", tambah kak Rina sambil membagikan
bunga pada kedua anak laki-laki tersebut.
"Dan untuk kamu
yang cewek, silahkan bernyanyi lagu bintang besar ya, kemudian perkenalkan
dirimu di depan teman-teman barumu ini!" perintah kak Ida.
Di saat Cintya dan dua
temannya melaksanakan perintah dari kakak-kakak OSIS, suasana kelas menjadi
ramai dan semua tertawa melihat penampilan Cintya dan kedua anak laki-laki tersebut.Wajah
Cintya tamapak memerah karena malu di tertawakan oleh semua teman sekelasnya.
"Adduuh…kenapa
tadi aku harus salah sih. Kalau sudah begini aku jadi malu sama
teman-teman", gumam Cintya dalam hati.
Namun disaat semua
mengejek dan mentertawakan Cintya, ada seorang cowok yang tersenyum manis
untuknya. Cintya senang karena masih ada temannya yang tidak
ikut mengejek penampilannya tadi.
Tiga hari telah
berlalu, MOS pun selesai. Semua siswa kembali di acak untuk memasuki kelasnya
yang baru. Cintya berharap, ia bisa bertemu lagi dengan anak laki-laki yang
belum sempat ia kenal.
Keesokan harinya
setelah ia tiba di sekolah, Cintya kebingungan mencari letak kelasnya. Akhirnya
Cintya bertemu dengan Neny teman SD-nya dulu. Neny mengantarkan Cintya ke
kelas, karna kebetulan Neny juga masuk di kelas yang sama dengan Cintya.
"Cintya, kamu nyari kelas apa?" tanya Neny ketika bertemu
Cintya di depan kalas IX-G.
"Aku nyari kelas
ku Nen, kamu tau dimana letak kelas VII-J?" tanya Cintya.
"Lho kamu masuk
di kelas VII-J?" tanya Neny.
"Iya, kenapa…
kamu mau ngeledek aku soalnya aku masuk kelas terakhir?" jawab Cintya
dengan memasang wajah sinis.
"Bukan begitu
Cin, aku cuma nggak nyangka kita akan jadi taman sekelas", jawab Neny.
"Ya sudah ayo
kita masuk kelas saja", ajak Cintya.
Setelah sampai didepan
pintu kelas VII-J, terlihat mata Cintya penuh harapan.
"Semoga aku bisa
satu kelas denganmya", gumam Cintya dalam hati.
Kemudian ia memasuki
kelas dengan menatap semua wajah teman barunya yang masih asing bagi Cintya.
Cintya duduk di bangku paling depan dengan Zukma taman SD-nya. Dan betapa
terkejutnya Cintya katika melihat anak laki-laki yang belum sempat ia kenal
juga masuk kelas VII-J. Dia duduk di bangku nomer dua dari belakang.
"Lho, bukankah
dia adalah anak laki-laki yang pernah tersenyum manis padaku?" Cintya
bertanya-tanya dalam hati.
"Apakah dia
benar-benar masuk di kelas ini, ataukah hanya ingin menemui teman di sampingnya
itu?" Cintya masih bertenya-tanya dalam hati.
Ternyata harapan
Cintya menjadi kenyataan, anak laki-laki yang belum sempat ia kenal dan pernah
tersenyum padanya masuk pada kelas yang sama dengannya. Cintya samgat senang
sekali. Kini ia semakin bersemangat untuk belajar. Satu semester berlalu,
Cintya dan semua temannya di kelas semakin akrab dan rukun, Serasa mereka semua
memiliki hubungan darah. Namun ada perasaan yang lain dari Cintya pada seorang
anak laki-laki yang pernah memberikan kesan tersendiri ketika MOS dulu, Bima
namanya.
Bima dan Cintya
berteman baik. Sampai akhirnya Cintya merasakan hal yang berbeda pada bima.
"Hmm… Apakah Bima
juga merasakan hal yang sama, seperti yang aku rasakan?" tanya Cintya
dalam hati.
"Ahh sepertinya
tak mungkin, dia kan sudah punya pacar?" pikirnya kembali.
Tapi sebenarnya Bima
juga merasakan hal yang sama trhadap Cintya. Hanya saja Cintya tak tahu hal
itu. Apalagi Bima juga menganggap apa yang dirasakannya selama ini hanyalah
perasaan sayang terhadap sahabatnya. Karna Bima sudah menganggap Cintya seperti
adiknya sendiri. Begitu juga sebaliknya, Cintya juga menganggap Bima seperti
kakaknya.
Satu tahun telah mereka lalui bersama. Kini
waktu telah memisahkan Cintya dan Bima. Meskipun sekarang di kelas delapan
Cintya dan Bima tidak satu kelas lagi, hubungan persahabatan mereka tetap
berjalan dengan baik.
"Hari ini aku
akan memasuki pintu kelas yang berbeda dengan Bima. Tapi aku tetap bersyukur
karena persabatanku dengan Bima masih terjalin dengan baik", gumam Cintya
dalam hati.
"aku hanya
berharap masih bisa bersahabat dengan Cintya", gumam Bima dalam hati
ketika dia akan memasuki pintu kelas delapan yang berbeda dengan Cintya.
Meskipun Cintya dan
Bima kini terpisah, tapi perasaan Cintya tidak pernah berubah terhadap Bima.
"Aku tidak akan
pernah berhenti berharap, agar Bima bisa mengarti perasaanku", kata Cintya
dengan penuh keyakinan.
Namun di sisi lain,
Cintya beranggapan bahwa ia lebih senang menjadi sahabat Bima, daripada menjadi
kekasihnya. Karma menurut Cintya persahabatan adalah hubungan yang kekal abadi.
Seperti pada kenyataan Cintya dan Bima masih tetap bersahabat meskipun mereka
sudah lulus SMP dan kini duduk di bangku SMA yang berbeda ( tidak satu sekolah
).
*cerita
ini adalah kisah dari kawn SMP saya dulu. Dia adalah.. ELSA SIVIA I.A. Thanks
for elsa.. ;)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar